Tuesday

kompleksitas sederhana

...biarkan aku melukiskan dirimu dalam angka...
bukan dalam coretan kuas...
ia tak sanggup menjelaskan dengan lugas...
sedang angka mampu menampung segenap kompleksitas
dalam deret sederhana...
----

arief, tentang kompleksitas sederhana

engkau bukan Tuhan

harusnya engkau melindungiku dari jamahan waktu
bukannya membiarkan terkapar sendirian
tapi...
begitu naif jika menyandarkan segala padamu
kau bukan...
Tuhan
---

Arief tentang engkau bukan Tuhan

...fear and doubt...

"...mengapa aku makin merindukanmu?.mengapa aku makin ingin menghadirkanmu di sini?.mengapa ia jadi begitu posesif?.bukankah Cinta harusnya membebaskan?.bukankah Cinta harusnya menyiapkan kita untuk berkorban?...entahlah...."

Arief tentang ketakutan dan kegamangan

Monday

Sebuah coretan tangan anak kecil

Duh Gusti...seharusnya nafas ini hanya jadi milikmu,
dalam tiap hirupan, dalam tiap hembusan, dalam tiap tarikan,
milikmu...HANYA milikMu, tapi
Aku tak pernah berdaya di hadapanMu, aku hanya makhlukmu
paling lemah, ciptaanMu yang paling naas,
Duh Engkau Yang Menaungi Langit Dan Bumi...sayap-sayap
pengharapanku terbang ke arahmu dan sekejap itu pula jiwa ku enggan
berpisah dari dirinya...

Duh Dzat yang tiap anak Adam akan kembali padaMu,
aku kan kembali padaMu jua, namun aku tak bisa pergi
dari lembut bayangnya...
Aku makin rapuh, lemah, ingatanku mulai uzur,
tetap saja aku makin tak bijak, aku makin hilang akal,
Duh Engkau yang mengetahui segala sesuatu, aku tak mampu
biarlah kusandarkan segalanya padaMu, hanya padaMu

Tuesday

Dan kutulis lagi

dan kutulis lagi, meski
jariku terbata mengeja kata
mengeja namamu dalam alur baris, titik dan garis
mengguratkan waktu dulu hingga kini

sudut matamu masih menggaung haru
berbahasa lembut penuh syahdu
tapi mata itu
meluruhkan hati paling kuat untuk membiru

dan aku, kini hanya bisa mereka
segenap cerita dalam kanvas bisu tak bermakna
menemani hari-hari kala malam cengkeram langit petang
dan menghirup embun pagi kala ia jatuh dari putik bunga
---
baya, 6/10/07

Monday

Keping ke 27

"Ketika kata-kata tak lagi sanggup menjelaskan isi kepala"
Itu dulu yang kita baca bersama
Namun kini tak ada lagi yang tersisa
'Tuk bisa menjelaskan segalanya
Mungkin tiba saatnya kita kembali
Belajar mengeja rasa dengan benar, dengan lapang hati
Tanpa marah atau segala angkuh hati
Duduk bersama lagi dan mengaji
Tentang keajaiban Tuhan ciptakan
Di antara rusuk-rusuk insan
Meski, nanti di akhir belajar kita tetap tak bisa baca
Dan hanya bening bulir di sudut mata yang bercerita
----
Baya, 27/8/07

Kasidah Rindu Kabut Malam Pada Embun Pagi

Mencintaimu saat mula bertemu
Meski tak tahu saat itu apa namanya
Juga tak tahu ada matahari membakar pagi
Tapi satu, itu ada dan
Berdenyut....Ber-de-nyut

Sekarang....hari ini...masih merindu hadirmu
Di tiap penghujung malam, kutatap ke arah lazuardi
Berharap hadirmu kembali seperti hari-hari
Kemarin....

Bulir-bulir lembut air mengalir jatuh dari ujung daun
Membelah keheningan pagi...itulah makna hadirmu
Di penghujung malamku...saat mata penat tercekat
Ketika mimpi enggan terjaga...

Namun detik ini, aku bertanya
Ketika kata-kata tak sanggup mengeja
Hanya jadi sulur-sulur tak berenda
Atau cuma pulasan pena tanpa makna
Akankah masih ada dirimu esok pagi
Sebelum matahari menyilau dan merobek hari
Aku rindu dengan kesejukan
Waktu aku mengakhiri perjalanan panjang arungi gelap malam

Andai saja aku bisa....
Membawa mu pergi....berdua
Hingga...tak lagi ada
Mentari atau apa jua...
Hanya kamu, aku, berdua....Ada....ada....
Tanpa tiada....
----
Baya, 27/8/07, menunggu pagi